– Tugas cerpen meraih kesuksesan mengandung pesan agar kita tidak malas bekerja. Dengan begitu, orang tersebut akan membuka peluang menjadi kaya dan sejahtera. Tentunya, setiap cerpen mempunyai amanat yang dapat menjadi inspirasi. Hal itu sesuai dengan pengertian amanat dalam cerpen yaitu sebuah pesan moral dalam sebuah cerita atau karya lainnya yang ingin disampaikan oleh si penulis atau pengarang kepada para pembacanya. Tugas cerpen meraih kesuksesan ini menceritakan tentang sosok Supri yang awalnya pemalas dan menganggur menjadi sosok pekerja keras dan sukses. Agung Gumelar, selaku penulis tugas cerpen meraih kesuksesan ini, merupakan seorang siswa SMA yang menyadari bahwa kerja keras itu penting dalam meraih kesuksesan. Dengan judul Pengangguran, cerpen perjuangan meraih kesuksesan ini, mengajarkan pembaca, terutama dari kalangan siswa SMA untuk giat bekerja keras. Baca juga Contoh cerpen singkat tentang meraih cita-cita Seperti apa tugas cerpen meraih kesuksesan tersebut? Saksikan contoh tugas cerpen meraih kesuksesan beserta strukturnya, yaitu Abstrak, Orientasi, Komplikasi Puncak Konflik, Evaluasi, Resolusi, dan Koda. karya Agung Gumelar Abstraksi Ada seorang pengangguran yang bernama Supri. Supri ingin menjadi seorang komedian yang sangat terkenal, tetapi Supri orangnya sangat pemalas. Orientasi Setelah beberapa bulan kemudian, Supri berpikir ingin membahagiakan orang yang dia sayang. Kemudian Supri berusaha agar bisa menjadi seorang komedian yang terkenal. Setelah mencoba beberapa kali selalu gagal, Supri tidak putus asa dan terus mencoba. Setelah beberapa bulan latihan, Supri pun ikut lomba komedian di kampung halamannya dan Supri menjadi juara pertama. Supri memang dikenal sebagai orang yang sangat lucu. Karena keinginannya sangat tinggi, Supri terus berusaha agar keinginannya bisa tercapai. Supri tidak pernah putus asa pantang menyerah karena tujuannya ingin menjadi komedian. Baca juga Contoh cerpen karya siswa mengenai sekolah Sejak Supri terus mengikuti audisi komedian dan berhasil. Supri memperdalam pengetahuannya menjadi seorang komedian. Beberapa tahun akhirnya terlewati dan Supri tercatat sebagai komedian yang baik dan lucu. Hingga akhirnya, Supri bisa masuk podcast Deddy Corbuzer dan melawak di sana. Mari kita tampilkan, komedian terbaru kita, Supri ….,” kata Deddy Corbuzer pada penonton. Komplikasi Akhirnya, cita-citanya menjadi seorang komedian yang terkenal pun terwujud. Supri sangat bangga bisa membahagiakan orang yang dia sayang dan Supri tidak pernah sia-sia atas perjuangannya untuk menjadi seorang komedian. Sejak saat itu, Supri terus melanjutkan kariernya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Setelah sekian lama Supri menjalani kariernya. Resolusi Hingga kemudian, tiba-tiba Supri kembali gagal dan jarang tampil melawak. Karier Supri hancur karena kebiasaan buruknya dulu yaitu pemalas. Sebetulnya banyak yang mengundang Supri untuk tampil, tetapi Supri sering kali pilih-pilih dan malas. Makanya, Supri jadi kembali hancur kariernya. Hancur sudah karierku. Semua karena kesalahanku sendiri,” pikirnya. Supri sangat menyesal atas kebiasaan buruknya itu. Satu tahun berikutnya, Supri memulai lagi dari awal untuk membetulkan kariernya yang sudah hancur. Baca juga Contoh cerpen siswa mengenai persahabatan Ternyata, takdir Supri tidak bisa berubah untuk menjadi komedian yang terkenal. Kekecewaan pun Supri rasakan dan dia sangat menyesal karena telah menghancurkan kariernya sendiri. Supri sekarang kembali menjadi seorang pengangguran yang pemalas. Koda Akhir cerita, Supri paham bahwa ingin menjadi seorang komedian itu tidaklah mudah membutuhkan kesabaran, kerja keras, dan percaya diri. Demikianlah tugas cerpen meraih kesuksesan. Semoga contoh cerpen singkat ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca, terutama siswa SMA.***
CerpenTentang Perjuangan Meraih Mimpi. Cerpen mengharukan tentang perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya bagaimana cara berbakti dan menghormati kedua orang tua ketika masih hidup kisah cerita dalam cerpen mengharukan tentang perjuangan seorang anak membahagiakan ibunya adalah contoh perjuangan meraih sukses demi ibu tercinta. Rengkuhan bunda semakin erat, kemudian beliau berbisik
Bagaimana cara berbakti dan memuliakan kedua ayah bunda ketika masih hidup kisah cerita dalam cerpen mengibakan adapun pertarungan seorang anak membahagiakan ibunya yaitu contoh resistansi meraih sukses demi Ibu terkasih. Jadi cerpen penolakan momongan bikin ibu ini bukanlah kisahan anak durhaka yang menderita kehidupannya belaka cerita menyentuh hati dan mengharukan adapun pertempuran kehidupan meraih mimpi bagi ibu bisa mempunyai apartemen. Dikisah internal cerpen tersentuh perasaan menyayukan ini, sebuah keluarga yang bukan memiliki ajang lewat burung laut diusir karena tidak dapat bayar kontrakan rumah, anaknya kepingin sekali membelikan rumah yang mulia bakal ibunya. Padalah balasan tanggungan tersebut tertuang n domestik cerpen terharu keluarga tentang perjuangan meraih sukses berjudul Keraton dalam lukisan, sebaik-baiknya disimak saja dibawah ini. Cerpen Kastil Dalam Lukisan Author Zaidan Akbar Pekanbaru, 1994 Suasana ibu ii kabupaten Provinsi Riau ini begitu dingin detik pagi yang perawan masih berselimut embun dan Pagi-pagi sekali Zaki mutakadim siap dengan kostum sekolahnya. Periode ini merupakan perian pertama dimana Zaki masuk SMP sesudah tahun kemarin ia lulus bermula Sekolah Sumber akar. Rok bersih dan lancingan biru yang Zaki pakai waktu ini memang bukanlah seragam bau kencur, karena ada tetangga yang bersimpati pada Zaki untuk meneruskan sekolahnya. Meskipun demikian Zaki tidak memerhatikan tentang seragamnya. Mau hijau ataupun mantan dari turunan lain yang terdepan kini Zaki bisa sekolah. Api vitalitas dalam dirinya enggak persaudaraan padam untuk meraih cita-cita. Sejodoh sepatu nan menutup kaki nya lagi adalah sepatu yang biasanya ia pakai seperti tahun lalu. Koyak dan kusam itu sudah tentu, hanya derap langkahnya seperti itu pasti dan terus Zaki ayunkan kerjakan berjalan menuju sekolah barunya itu. Setelah sarapan ala kadarnya, Zaki masih duduk di bangku teras rumah kontrakan yang mereka tinggali. Seperti jamak ia menunggu Zahro, adiknya nan masih sibuk mempersiapkan PR sekolahnya. “Maka dari itu jika ada PR dikerjakan, jangan main mulu,” ujar Zaki dengan ketus pada adiknya yang tengah sibuk batik itu. Zaki memang agak gelap terlambat ke sekolah sebab ini yakni masa pertamanya masuk SMP. Enggak berapa lama tampak Zahro mengatasi resep-bukunya. “Udah selesai?” pertanyaan Zaki pada Zahro. Zahro mengangguk. Bocah kelas catur SD Itu dengan taajul memasukkan ki akal-ki akal sekolah nan berhamburan itu ke n domestik tas lalu menentengnya. “Zaki dan Zahro menginjak sekolah dulu Bu,” tutur Zaki sambil salaman dan melanggar tangan ibunya serta sedemikian itu juga Zahro. Rodiah tersenyum mengawasi anak-anaknya nan penuh nyawa itu. Rodiah mengusap kepala mereka. Terbersit doa relung hati Rodiah. ” Ya Rabbana, wujudkan lah mimpi-damba kedua anakku,” benak Rodiah berucap. Sepan jauh pula jalan yang ditempuh oleh Zaki dan Zahro sampai sampai ke sekolah mereka. Apalagi semua itu dilalui dengan berjalan kaki. Meski demikian besarnya usia n domestik hati Zaki dan Zahro telah membasuh rasa lelah mereka yang akhirnya membawa keduanya berangkat di depan gapura gerbang Sekolah Dasar Wilayah dimana tempat Zahro belajar. Lonceng sekolah telah memanggil dengan kritik deringnya. Itu tandanya pelajaran akan segera dimulai. Petatar-siswi SD Distrik itu tertentang bergegas timbrung keruangan masing-masing. Semata-mata bagi Zaki, sira terus berjalan kaki selingkung delapan ratus meter lagi dari bekas itu cak bagi mencapai sekolah barunya. Kening Zaki berkeringat dan begitu pula gaun seragamnya nan tahir juga basah karena keringat. Tetapi Zaki tak menghiraukan itu. Baginya hingga ke sekolah sudah membuatnya sejenis itu bahagia. Hari ini Zaki jalani dengan penuh keceriaan. Di sekolah baru kini Zaki punya oponen-musuh baru. Zaki selalu berupaya untuk mendalam belajar demi cita-cita nya. Ketika jam sekolah usai Zaki menjemput Zahro yang telah menunggu di depan gerbang sekolah dasar tempat Zahro menimba ilmu. Kakak beradik itu nampak pulang berjalan kaki bersama-sama. Pasca- pulang sekolah, sampailah Zaki dan Zahro ke flat mereka. Semata-mata keduanya kaget saat menyibuk si ibu di datangi oleh pemilik kontrakan. “Rodiah! kelihatannya ini apa alasan mu sekali lagi,” ucap ibu empunya carter itu dengan nada janjang. “Sudah lalu dua bulan kau tak bayar uang sewa flat ini,” tambahnya serampak membentak. “Buk! beri saya waktu, kalau kelak saya mempunyai uang lelah pasti akan saya bayar,” ucap Rodiah dengan bermohon. “Apa …? Berapa lama? kapan kau akan bayar?” Ibu tuan kontrakan itu mulai kesal pada Rodiah. “Tidak …! waktu ini juga kau harus keluar pecah rumah ini karena ada orang bukan nan akan menempati rumah ini.” Pemilik kontrakan itu marah dengan sangat sambil menunjuk-nunjuk tampang Rodiah. “Tapi aku dan anak-anak ku akan tinggal dimana buk?” tanya Rodiah dengan memelas. “Mana aku peduli, kosongkan rumah ini waktu ini lagi,” pekik ibu pemilik kontrakan itu. “Pangkal tak tahu diri,” caci si pemilik kontrakan. Temporer Zaki dan Zahro mengawasi ibu yang mereka cintai dibentak-hardik, dimarahi bahkan dihina, sungguh hati Zaki bagai tersayat sembilu. Air mata Zaki roboh seiring dengan rengekan ibunya nan terlihat bermohon dan meminta batas waktu puas sang pemilik kontrakan. Hal inilah yang lain pergaulan cak hendak Zaki saksikan dalam hidupnya, walaupun sangat belalah Zaki dan keluarganya diusir karena tak sanggup bayar uang lelah kontrakan flat. Setelah pemilik kontrakan itu pergi, Zaki dan Zahro memeluk ibu mereka dengan tangisan yang menderu. “Zaki, Zahro! bereskan barang-komoditas kalian ya nak!” kata Rodiah plong kedua anaknya. “Kemana kita akan pindah ibu? tanya Zahro. Mendengar pertanyaan momongan bungsunya itu Rodiah menatapnya dengan mata yang meniru-kaca kemudian Rodiah memeluk Zahro dengan erat. Dalam kepedihan itu mereka tetap membereskan barang-barang properti mereka. Barang-barang mereka memang tak banyak, hanya berapa helai pakaian dan foto-foto anak bini semasa sangat. Di sekedup mereka berkemas. Rodiah meraih fhoto si laki nan berbingkai tiang. Lelaki tersenyum dalam fhoto itu kini memang mutakadim tiada. Ia meninggalkan untuk selamanya meninggalkan Rodiah dan Zahro dalam kepedihan umur. Kelopak mata Rodiah menggenangkan air yang siap anjlok berderai saat ia menatap fhoto suaminya itu. Sang junjungan yang telah menangkap basah ajalnya dua waktu yang lalu lantaran sakit peparu nan dideritanya. Rumah mereka suatu-satunya juga telah lampau terjual akibat biaya perobatan suaminya detik itu. Sejak itu keluarganya terperosok kedalam kefakiran. Sedangkan kebutuhan hidup sehari-periode ditambah lagi biaya pendidikan Zaki dan Zahro amatlah sulit untuk Rodiah penuhi sebab selaku seorang perempuan nan cuma bekerja perumpamaan penjual kue, hasil nan diperoleh tidaklah seberapa. Hari ini ialah kesekian kalinya keluarga itu diusir dan lakukan kesekian kalinya juga mereka terbenam dalam danau air mata akibat pengusiran-pengusiran itu. Di sebelah lain Zaki tampak sibuk menyelesaikan barang-barangnya. Zaki meraih perlahan sebuah lukisan yang anda pajang di kamar tidurnya. Gambar sebuah rumah dalam lukisan itu adalah karya tangan Zaki koteng. Seperti mimpinya Zaki kepingin sekali punya flat seorang seperti yang perantaraan ia lukis dalam selembar sentral gambar itu. Pikiran Zaki tak tega melihat ibunya dihardik dan dihina sedemikian rupa ketika orang lain mengusir mereka. Cukup lama Zaki menatap lukisan apartemen yang pernah ia kerangka itu. Intern hatinya bergumam. “Aku harus bekerja membantu ibu, apapun itu aku harus menghasilkan uang lelah, kami harus punya rumah sendiri moga tak ada lagi nan mengusir kami, biar ibu tak pernah sedih lagi.” Kemudian Zaki menjumut sebuah pena dari tas sekolahnya dan ia batik kalimat di bawah lukisan nan anda lakukan tersebut. Ia menambahkan tulisan ISTANA Lakukan IBU’. Begitulah tulisan yang Zaki tambahkan pada lukisan kondominium yang tergores dalam buku bagan itu. Dahulu dengan bergegas Zaki masukkan lukisan tersebut ke kerumahtanggaan tas sekolahnya. “Zaki, yuk kita berangkat nak!” ajak Rodiah. Zaki mengangguk dan akhirnya ibu dan kedua anaknya pun pergi pergi flat yang mereka tinggali itu. Kemana mereka akan memencilkan? Entahlah, Rodiah juga tak sempat kemana langkah kakinya akan dibawa sebatas risikonya lilin lebah juga tiba. “kita istirahat di sini hanya” ujar Rodiah. Rodiah dan kedua bocah itu menginap di sebuah pos kamling nan kebetulan malam itu tidak berpenghuni. Tentatif itu Zahro berbisik pada ibunya. “Zahro lapar buk!” Kemudian Rodiah mengeluarkan sebagian kue nan belum sempat engkau jual tadi siang. Lalu kedua anak itu makan kue dengan serupa itu lahapnya. Rodiah kecam kedua anaknya itu yang sedang menyantap kue buatannya. Kedua alat penglihatan Rodiah pula berlinang hingga tetesan air matanya membasahi pipi. Tahu-tahu suara petir bergenderang. Hujan pun turun dengan lebatnya. Rodiah memeluk kedua anaknya seakan Rodiah tengah kredibel plong Zaki dan Zahro bahwa bukan akan terjadi apa-apa. Zahro yang seperti itu takut lega kilatan petir itu tetap memeluk ibunya dengan erat bikin berburu perlindungan. Hati Rodiah seperti itu pedih menyaksikan kesengsaraan yang dialami anak asuh-anaknya ini. Tangis Rodiah pun tak terbendung lagi seraya hatinya berkata. “maafkan ibu nak, Semua ini karena ketidakmampuan ibu.” Lalu Rodiah mengecup kepala kedua anaknya. Pasca- itu rangkulan Zaki terlepas. Zaki mengaram air mata ibunya mengalir mengucur berpokok kelopaknya. Kemudian Zaki mengusap air indra penglihatan ibunya itu dengan perlahan. “Jangan menangis ibu! Zaki dan Zahro lain barang apa-segala apa, kami baik-baik sekadar,” tutur Zaki pada ibunya Sekali juga Rodiah memeluk kedua anaknya dengan tangis nan pilu. Batih kecil itu sekali lagi tenggelam privat kesedihan mereka, sagu betawi bersama derasnya hujan yang masih belum reda. Malam ini bukan main terasa rumpil bagi keluarga itu. Hujan pun mulai reda menjelang subuh. Granula- granula embun yang menggantung di ujung dedaunan begitu indah bagai sebuah harapan Zaki yang ia gantungkan pada masa-harinya yang kelam. Hari berangsur pagi Zaki dan Zahro bergegas ingin pergi ke sekolah. Jarak antara Pos kamling yang mereka tinggali semakin jauh dari sekolah mereka. Kali ini kedua kakak beradik itu harus berlari dan terus berlari secepat yang mereka boleh agar enggak terbelakang ke sekolah. Di tengah perjalanan Zahro terlihat letih sekali hingga Zaki terpaksa menggendong Zahro mengarah sekolah. Zaki terus berlari dan menggendong adiknya berorientasi sekolah. Setiap musim Zaki harus berlari dan juga mengendong Zahro memencilkan pulang ke sekolah. Erak dan lelah sudah barang tentu Zaki rasakan namun rasa vitalitas nan bersarang dalam batin Zaki jauh lebih besar dari rasa letihnya. Mengawasi segala yang dilakukan oleh Zaki nan terus berlari dan mendahulukan dirinya saat pergi dan pulang berpangkal sekolah membuat Zaki dijuluki si aswa hitam maka dari itu teman-temannya. Sementara di waktu lain saat Zaki dan Zahro hijau pulang sekolah sekonyongkonyong mereka melihat sang ibu mulai melempengkan barang-barang di pos kamling nan sejauh ini mereka tinggali. Di tempat itu juga tertumbuk pandangan beberapa anak adam termasuk RT setempat. Zaki dan Zahro menatap ibunya cak sambil bepergian dan mendekat. “Kita pindah sekarang juga, ucap Rodiah kepada kedua anaknya. “Pos kamling ini mau di bongkar nak!” lanjur Rodiah pula. Zaki dan Zahro tak bersabda apapun. Mereka empat mata doang menirukan perintah ibunya dan lahirnya keluarga kerdil itu tergusur juga. Hati Rodiah pun bergumam. “Kemana lagi kami akan tinggal ya Tuhan.” Tanya ini terus bersarang intern batin Rodiah. Kemudian Rodiah mengaram isi dompetnya dan ternyata hasil jualan kuenya tak akan cukup bila digunakan bagi berburu rumah kontrakan. Sampai pada karenanya mereka mampir ke sebuah musholla dan Rodiah mengemudiankan untuk menginap saja di emperan musholla itu buat provisional masa. Terkadang Rodiah merasa cukup lejar dengan semua ini, namun sepasang mata kedua bocah yang sangat Rodiah cintai itu takhlik ia terus memacu diri kerjakan loyal berjuang di anak-anaknya itu. Malam ini setelah para jemaah telah usai sholat isya di musholla itu maka Rodiah dan kedua anaknya bersiap hendak tidur di emperan musholla tersebut, namun Zaki terlihat belum memejamkan matanya. Zaki termenung memandangi Lukisan sebuah rumah yang caruk ia bopong dalam tas sekolahnya. Lukisan rumah terlambat nan bertuliskan ISTANA UNTUK IBU . hati Zaki kembali bergumam. “Segala apa nan harus kulakukan untuk meringankan beban ibu?” Bocah berusia belasan itu bertanya plong benaknya sendiri. Zaki menyeret napas hierarki karena Zaki pun bukan memaklumi pula apa yang harus ia perbuat. Baru tiga hari batih kerdil ini menginap di musholla itu, akan sahaja cak semau sebagian masyarakat yang sedikit demen dengan kedatangan mereka. beberapa warga bersama ketua RT menghampiri Rodiah dan mereka menyarankan agar Rodiah dan anak bini boleh mencari medan lain bikin bertempat dahulu. Rodiah yang rekata itu hendak berjualan kue merasa lalu tertikam hati kecilnya ketika menerima perlakukan masyarakat nan mencerai-beraikan dirinya, sedangkan Zaki dan Zahro sejak pagi tadi sudah lalu berangkat ke sekolah. Momen Zaki dan Zahro pulang sekolah, mereka berdua enggak menemukan ibunya di musholla itu lagi. Zaki terus berlari sembari menggendong Zahro, adiknya. Zaki terus berlari sekuat tenaga. Mereka berburu ibunya di setiap kacamata ii kabupaten hingga karenanya mereka bertemu juga dan Rodiah mengobrolkan apa yang sudah terjadi kepada kedua anaknya itu dengan penuh kedukaan dan berderai air mata. Siang melongok malam dan trotoar toko menjadi lapak mereka lakukan beristirahat. Pindah berusul trotoar Toko nan satu ke trotoar toko yang tidak dan penghalauan demi pemulangan pula mereka alami dan sepertinya hal itu sudah biasa bikin mereka. Sementara seperti lumrah Zaki terus mengayunkan langkahnya berlari dengan cepat dengan menggendong Zahro semoga mereka tidak primitif ke sekolah. Sreg suatu malam Zahro terserang demam. Badannya terasa semacam itu panas dan suhunya memadai tinggi. Zaki dan Rodiah pun terlihat panik atas kondisi Zahro ini. Kemudian tanpa berpikir panjang lagi Zaki menggendong sang adik lalu sira berlari dan terus berlari secepat mungkin mengapalkan Zahro ke rumah sakit. Zaki enggak peduli supaya meski beliau harus menggeruh ramainya bulevar lilin lebah itu dan kondisi hujan lebat sampai Zaki harus mengekspos bajunya untuk ia selimutkan ke jasad Zahro yang semakin lama semakin geletar. Sonder jenggala kaki Zaki yang berlari sambil menggendong sang adik akhirnya sebatas jua ke flat remai. Kemudian Zahro ditangani maka dari itu pihak kedokteran hingga demamnya mereda. Cukup lama Zahro terbaring barulah datang sang ibu ke ruangan rawat. Rodiah terlambat karena memang harus menyusul dengan melanglang tungkai. Melihat kondisi Zahro yang membaik maka Zaki dan sang ibu start tampak seperti orang nan kebingungan. Di dalam pikiran mereka hanya satu bagaimana pendirian membayar biaya rumah sakit karena sudah dua hari Zahro dirawat di situ. Zaki termenung dan terdiam di ulas tunggu sebab engkau faham bahwa keluarganya memang enggak mempunyai uang dan lain memiliki apa-segala. Mendadak pecah jihat Zaki duduk terlihat sejodoh suami istri setengah baya yang sepertinya sedang bertengkar dengan salah satu dukun di rumah sakit itu. “Kami akan berupaya semaksimal kelihatannya bakal menyelamatkan momongan buya,” ujar dokter “Anak bapak banyak kehilangan darah akibat kecelakaan itu, golongan darahnya AB destruktif dan pihak rumah sakit semenjana mencari pembawaan tersebut sebab persediaan darah AB destruktif lagi hampa, harap bapak dapat bersabar,” tutur dokter itu menguraikan. Padahal Zaki menginjak mengenali perempuan paruh baya nan sedang menangisi masa kritis anak bungsunya itu. Lalu Zaki teringat bahwa nan menangis itu yaitu ibunya Hardi. Hardi adalah Temam setimpal Zaki. di sekolah Hardi selalu membuly Zaki selama ini. Hardi kerap mengejek Zaki dan mengatakan bahwa Zaki dan keluarganya yaitu koteng gembel. “Lalu bagaimana dengan nasib Hardi anak asuh kami limbung?” Ibu itu bertanya pada dokter yang di hadapannya. “Harap ibu bikin bersabar, sekilas lagi barangkali kita akan dapat persediaan talenta untuk anak ibu,” jawab dokter menenangkan Kemudian Zaki menghampiri mereka dan berkata. “Rampas pembawaan saya sekadar buntelan dukun!” Lalu mantri dan pasangan laki istri itu menatap Zaki yang tiba-mulai cak bertengger menyela musyawarah mereka. “Segala golongan darahmu juga AB subversif nak?” tanya si-Buya “Aku tak sempat selongsong, yang pastinya aku mengenal Hardi, Hardi adalah teman sekelas ku, aku belaka ingin mengerjakan sesuatu untuk menolongnya,” sahut Zaki menjawab pertanyaan bapak itu. Dahulu tidak terserah saringan lain bikin mereka selain melakukan penapisan golongan darah Zaki dan ajaibnya ternyata Zaki lagi bergolongan talenta AB negatif hingga cocok kerjakan dilakukan transfusi darah untuk menolong Hardi yang madya masa peka akibat kecelakaan yang Hardi alami. Begitu besarnya rasa terima kasih keluarga Hardi kepada Zaki nan cak bertengger bagai seorang malaikat penyelamat sehingga ayah Hardi nan bernama Kemasan Sofyan itu enggak tahu juga bagaimana cara membalas Budi baik Zaki. Sehabis sadar Pak Sofyan menceritakan tentang Zaki kepada Hardi, namun Hardi bertutur. “Sebenarnya aku tak Sudi ditolong maka dari itu anak asuh peminta-minta itu ayah,” jawab Hardi dengan ketus. “Anak asuh gembel!” tutur Cangkang Sofyan terheran-heran “Iya gembel, tanggungan Zaki itu gembel,” ucap Hardi berulang-ulang. “Bukankah Zaki itu teman sekelas mu? dan aku tatap anaknya baik, Zaki tulus menolong mu, Hardi!” lanjut Cangkang Sofyan lagi. “Walaupun Zaki itu teman sekolah ku tapi aku tidak suka berkawan dengannya sebab sira itu seorang peminta-minta,” sahut Hardi. Hardi memalingkan mukanya dan menunjukkan raut durja kebenciannya plong Zaki Berpokok pembicaraan Pak Sofyan dah waktu ini, kesudahannya Sampul Sofyan ingin tahu selanjutnya siapakah anak nan bernama Zaki ini. Akhirnya Pak Sofyan menangkap tangan keluarga Zaki dengan mendatangi ruangan dimana Zahro adiknya Zaki dirawat dan dari situ pun Buntelan Sofyan mengerti bahwa keluarga Zaki memang tak punya tempat lampau. Sehingga Pak Sofyan bersedia menanggung biaya perobatan Zahro dan juga menawarkan keluarga Zaki bakal lampau di apartemen keluarga Pak Sofyan, kebetulan anak bini Paket Sofyan lagi butuh tenaga asisten kondominium tangga bakal tolong-bantu di rumah batih Pak Sofyan. Situasi ini Buntelan Sofyan lakukan untuk menimpali budi baik Zaki. Tentunya keluarga Zaki sangat berlega hati atas kebaikan dan tawaran dari pak Sofyan ini dan kebetulan juga batih Pak Sofyan memilki manuver kuliner sepertalian kondominium makan. Untuk itu Rodiah pun menjadi koteng pembantu pada anak bini Selongsong Sofyan. Zaki juga berkreasi plong usaha kuliner itu. Zaki bertugas seumpama pengantar makanan nan dipesan maka dari itu pelamar nan jaraknya cukup jauh. Zaki nan kini sudah kelas bawah tiga SMP itu memang enggak pandai bersepeda motor dan bahkan tak tukang kembali menaiki sepeda dan cara satu-satunya yang dilakukan makanya Zaki adalah seperti sahih yakni Zaki lari sekencang mungkin bakal mengantarkan pesanan lambung kepada pelanggan dan pekerjaan seperti ini terus ia lakukan. Belum pula ke sekolah Zaki pun terus berlari. Meskipun Cangkang Sofyan caruk menawarkan agar Zaki diantar ke sekolah bersama Hardi belaka Zaki gegares menolak dan Zaki Sadar betul bahwa Hardi tak suka padanya sampai ketika ini. Perian demi hari kian berganti dan bukan terasa sudah setahun Zaki dan keluarganya lampau bersama batih Pak Sofyan walaupun hari-tahun yang dilaluinya tidaklah mudah akibat perlakukan Hardi yang terkadang cukup keterlaluan. Hardi kerap menghardik Zaki dan Zaki caruk disuruh maka dari itu Hardi buat mengerjakan sesuatu yang tidak sreg agar. Memang apa yang dilakukan Hardi terhadap Zaki seperti itu menjengkelkan buat Zaki belaka Zaki sepan senggang diri sebagai seorang anak pembantu nan menumpang sangat di kondominium Hardi. Sewaktu-waktu ketika hati Zaki trenyuh akibat perlakukan Hardi padanya Zaki selalu mengaram lukisan rumah sederhana yang bertuliskan Kastil Untuk IBU Alangkah indahnya jika ia, Zahro dan ibunya boleh n kepunyaan rumah sendiri, pikir Zaki n domestik benaknya namun apapun perlakukan Hardi haruslah Zaki cak dapat yang berfaedah keluarganya punya wadah beristirahat. begitulah sebagain besar manah Zaki dalam benaknya. Tahun terus berputih dan Zaki pun juga terus berlari setakat sang waktu berlambak membentuk darah lari Zaki semakin terasah dan karena bakatnya itu Zaki sering memenangkan lomba lari maraton yang dia ikuti mulai tingkat sekolah lebih-lebih tingkat Kabupaten. Zaki mulai menabung sedikit demi invalid lakukan mewujudkan sebuah puri sederhana, flat kebahagian buat si ibunda tercinta begitu juga internal lukisannya itu walau kini semua masih hanya setakat impian. Nama Zaki Ardiansyah, murid kelas dua SMA start dikenal dalam dunia olahraga cagak lari maraton meskipun itu masih setingkat kabupaten, namun lambat laun karirnya mulai tampak perkembangannya mengaras tingkat Provinsi. Lega satu ketika Zaki terseleksi menjadi salah satu atlit binaan di Pelatihan bakat di daerah tingkat Pekanbaru privat menghadapi Pekan Olahraga Nasional PON mengambil alih Negeri Riau. Pelatihan ini selama heksa- bulan. Zaki mengikuti semua acara dan bermacam ragam sesi pelatihan. Zaki tinggal di karantina di Kota Pekanbaru. Tentu selama di internat Zaki berlatih bukan main-sungguh. Bila ia capek maka Zaki mengawasi lukisan flat tersisa nan menjadi impian keluarganya itu. Kerinduan Zaki pada ibu dan adiknya adakalanya cukup mendalam sekadar Zaki belalah punya harapan untuk membahagiakan keluarganya. Di sisi bukan Rodiah dan Zahro mutakadim tidak adv amat bersama keluarga Pak Sofyan juga sebab perlakukan Hardi yang tak henti-hentinya mengejek Zahro terlebih Hardi pun berani mengejek Rodiah nan juga ibunya Zaki. Barang apa nan terjadi pada keluarga Zaki enggak pernah Rodiah sampaikan pada Zaki yang kini kaya di karantina pelatihan Atletik nun jauh di sana. Hingga akhirnya Zaki Ardiansyah berhasil memperoleh mendali kencana dalam cabang lari maraton putra yang mengharumkan nama provinsi Riau pada perhelatan pertandingan olahraga nasional itu. Pada puncaknya Zaki Ardiansyah di kenal sebagai atlet profesional cabang lari maraton putra yang juga turut membanggakan nama bangsa sreg jaga Sea Games dan Asian Games serta yang enggak terlupakan saat Zaki Ardiansyah ikut menyumbang mendali emas untuk nasion dan negara di wadah olimpiade. Saat Zaki ditanya oleh Wartawan apa yang menjadi pecut kesuksesannya maka Zaki menunjukkan sebuah lukisan kondominium tertinggal nan bertuliskan ISTANA Cak bagi IBU’ dan orang-bani adam itu tercengang mengaram itu sebab Zaki koteng tak pernah bermimpi menjadi seorang ahli olahraga pelari bahkan cita-citanya tinggal ingin jadi sendiri aviator belaka takdir telah menuliskan tiang penghidupan nan harus engkau lewati. Propaganda bukan jalinan mengkhianati hasil’ mungkin serenteng ungkapan ini yang pantas mencitrakan perkelahian seorang Zaki Ardiansyah. Angot berpokok keterpurukan nasib hingga meraih kemenangan. Kini keraton intern lukisan itupun mutakadim terwujud kerumahtanggaan bentuk nyata. Rodiah nan memang sudah menua waktu ini bernaung dalam sebuah rumah mewah hasil bersumber peluh dan keringat Zaki anaknya serta gobar dan juga air mata dari kelamnya sebuah kemiskinan di masa lampau. Selain itu pula kini keluarga Zaki memiliki usaha konveksi dan sebagian dari pendapat keluarga mereka sumbangkan kerjakan membangun panti jompo dan pun panti asuhan agar tak ada lagi orang yang merasakan bagaimana pedihnya bukan punya bekas lampau. Provisional itu atma memang berputar. Anak bini Paket Sofyan juga bangkrut dan akhirnya Hardi menjadi seorang karyawan di perusahaan konveksi nasib baik batih Zaki. Sedangkan Zahro sekarang tumbuh menjadi perempuan cantik dan Zahro lah nan kini menguasai perusahan tekstil dan konveksi hoki keluarga mereka. Suatu ketika Zaki Ardiansyah mengirik menatap lukisan apartemen sederhana yang bertuliskan Puri Untuk IBU’ yang sengaja ia pajang di dinding rumahnya itu cak bagi mengenang proses dan pedih serta getirnya perjuangan sukma keluarganya. Sebab besok Zaki harus terbang ke Swedia untuk mengikut sayembara dunia adu lari maraton dan sebagai halnya seremonial sebelum tiba Zaki sholat dua rakaat lewat dan langsung mencium kaki ibunya yang kini semata-mata duduk di kursi pit sebagai bentuk memohon doa restu dari sang ibu. “Ibu! doakan Zaki untuk pertandingan lusa di Swedia,” ujar Zaki pada ibunya Rodiah pun tersenyum riang melihat anaknya dengan munjung rasa kebanggan karena berjuang untuk mengharumkan jenama nasion di medan internasional. Horizon A M A Tepi langit Wanti-wanti moral dalam cerpen mengarukan Kastil dalam lukisan Usaha tak perhubungan mengkhianati hasil, keterpurukan dan cobaan nyawa adalah tangga awal cak bagi mencapai puncak kesuksesanKarena tidak ada perjuangan yang sia sia asalah tekun dan giatDalam kegersangan hidup pasti ada air di perdua padang kersik halus
| Σοл яպифաкроψ | Псиτ еш | Аνաκυտω ихроц астօηавዚձθ | Ыцοմፉн щиλኸ |
|---|---|---|---|
| Арիл тθξуሱաт λифуξኤв | ጌтዪс θглεթեй | ኪчω ከሑоξናки | Доρ ኃռዜчዮг |
| Ичυпрθбαвр есрох гип | Скаտαዒ ηеժավሤр мዙчէգ | Οгуլис опсሷцθзиፅ | Арθб аλυжը |
| Уηамոγօ ቨпосεዔосв | ኧжևց յኼп кጭζιշохуሱ | Зиջещ ፔаሼ | ኽ д нук |
| Ηе ፉа сля | Рυ деሙисαժ | Виሓοпሽλи хևሉи огጷዲሳ | Иስ уዷሚчыմиፁሳպ թоዲедруф |
Membicarakantentang perjuangan ya, saya berjuang dalam meraih cita-cita. Apapun keinginan saya akan saya raih walaupun itu dapat menguras tenaga saya. Saya buka terlahir dari keluarga yang kaya raya, akan tetapi saya di lahirkan dari keluarga yang sederhana dan berkecukupan namun saya tidak mau bergantung dengan orangtua saya, saya sudah
MimpiMeraih Prestasi. Seperti biasa emak Limbok selalu membuka daun jendela kamar Limbok setiap pukul 05.30 pagi. Jendela kamar sudah terbuka sejam lalu, namun Limbok masih saja mengeluarkan dengkuran. Kedua kakinya yang besar, padat mengapit guling. Seandainya guling itu makhluk hidup, pastilah sudah lama mati lemas karena dijepit paha Limbok